Ibnu Taimiyah di Hati Hanabilah

Syaikhul Islam Taqiyuddin Abul Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abul Barakat bin Taimiyah rahimahumullâh sosok ulama yang memiliki kedudukan yang luhur dan istimewa di hati Hanabilah.

Beliau orang yang membuat bangga mazhab ini. Permata yang agung. Mutiara yang berharga. Emas yang murni. Sungai yang mengalir deras. Allah Taala mengaruniakannya ilmu yang luas, pemahaman yang objektif, sehingga jadilah beliau seolah seperti lautan tanpa pantai dan seperti sungai tanpa ujung.

Alauddin Al-Mardawi seorang munaqqih dan muharar mazhab di kitabnya At-Tahbîr Syarh At-Tahrîr menyebutkan bahwa Taqiyuddin Ibnu Taimiyah termasuk di antara mujtahidin yang lahir dari umat ini. 

Hanabilah senantiasa mengambil manfaat dari ilmunya dan memperhatikan pendapatnya. Kitab-kitab mereka dipenuhi dengan aqwalnya. Iktiyaratnya selalu disertakan sebagai penguat dalam suatu permasalahan. Dengan demikian, pendapat-pendapatnya menghiasai kitab-kitab mereka. 

Tidaklah Hanabilah dari dulu bahkan sampai hari ini kecuali mereka mengagungkan dan memuliakannya. Serta menukil perkataan-perkataannya di kitab-kitab dan tulisan-tulisan mereka. 

Sebut saja Ibnu Muflih di kitabnya Al-Furû' menyebutkannya dengan "Syaikhuna". Al-Mardawi banyak menukil darinya di kitab Al-Inshâf dan Tashîhul Furû'. Begitupula al-Hajjawi tidak sedikit menyertakan pendapatnya di kitab Al-Iqnâ' dengan redaksi "Qâla Asy-Syaikh". Tak ketinggalan Mar'ie Al-Karmi pun menukil pandangan-pandangan beliau di kitabnya Ghâyah Al-Muntahâ. Bahkan di kitab Muntahâ Al-Irâdât karya Ibnu Najjar masail yang ada di dalamnya itu asalnya dari aqwal Syaikhul Islam. 

Jadi, para muhaqiq dan ahlut tashih mazhab ini selalu memperhatikan dan menukil pendapat-pendapatnya, maka apalah kita dibandingkan mereka? Dan bagaimana keadaan sebagian orang yang di hatinya menyimpan sesuatu terhadap Syaikhul Islam yang mengatakan beliau ini tidak memiliki kedudukan di dalam mazhab ini? Aduhai apa yang akan dikatakannya? Bahkan para ulama yang berbeda dengannya dalam urusan itikad mengakui kedudukannya. 

Oleh karena itu, hati-hati melempar batu jika kita tinggal di rumah kaca.

----
Tulisan di atas sekadar catatan dan refleksi saya hasil dari membaca buku di bawah, bukan maksud lain.

Nanang Ismail

Pic.: Dokumen pribadi

Post a Comment

أحدث أقدم