Find Us OIn Facebook

Hari-hari yang telah Allah Tabaraka wa Ta’ala ciptakan ada hari yang paling utama, yakni hari Jumat.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda,

خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا وَلاَ تَقُومُ السَّاعَةُ إِلاَّ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ

Sebaik-baik hari dimana matahari terbit di saat itu adalah hari Jum’at. Pada hari ini Adam diciptakan, hari ketika ia dimasukan ke dalam Surga dan hari ketika ia dikeluarkan dari Surga. Dan hari Kiamat tidak akan terjadi kecuali pada hari Jumat.” (HR Muslim, no. 854)

Selain itu, Allah ‘Azza wa Jalla memberikan kesempatan kepada hamba-Nya untuk memperbanyak amal saleh di hari-hari terbaik yakni 10 hari pertama di bulan Zulhijah.

Diriwayatkan dai Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda,

ما من أيَّامٍ أعظَمُ عندَ اللهِ ولا أحَبُّ إليه العَمَلُ فيهِنَّ من هذه الأيَّامِ العَشْرِ، فأكْثِروا فيهِنَّ من التَّهْليلِ والتَّكْبيرِ والتَّحْميدِ

Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir, dan tahmid.” (HR Ahmad, no. 6154. Disahihkan oleh Syuaib Al-Arnauth)

Oleh karena itu, Al-Allamah Manshur bin Yunus Al-Buhuti Al-Hanbali rahimahullah dalam Daqâ`iq Ûlin Nuhâ syarah atas Muntahâ Al-Irâdât mengatakan,

فَصْلٌ أَفْضَلُ الْأَيَّامِ

يَوْمُ الْجُمُعَةِ قَالَ الشَّيْخُ تَقِيُّ الدِّينِ: هُوَ أَفْضَلُ أَيَّامِ الْأُسْبُوعِ إجْمَاعً

Pasal Hari-hari yang Paling Utama

Ialah hari Jumat. Syekh Taqiyyudin berkata: Ia merupakan hari yang paling utama dalam satu pekan secara ijma.

وَقَالَ: يَوْمُ النَّحْرِ أَفْضَلُ أَيَّامِ الْعَامِ وَكَذَا قَالَ جَدُّهُ الْمَجْدُ

Dan kakeknya yakni Al-Majd berkata: Hari Nahar merupakan hari-hari yang paling utama dalam satu tahun. (Daqâ`iq Ûlin Nuhâ, 1/196)

Lalu bagaimana dengan malam hari? Malam apakah yang paling utama?

Masih di halaman yang sama Al-Allamah Al-Buhuti rahimahullah berkata,

(وَ) 

أَفْضَلُ (اللَّيَالِي: لَيْلَةُ الْقَدْرِ) لِلْآيَةِ وَذَكَرَهُ الْخَطَّابِيِّ إجْمَاعًا وَهِيَ لَيْلَةٌ مُعَظَّمَ

“(Dan) yang paling utama (malam itu adalah malam Lailatulqadar) sebagaimana yang disebutkan dalam ayat dan Al-Khathabi menyebutkannya sebagai ijma. Yakni suatu malam yang agung.”

Ayat yang dimaksud adalah

لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ 

Malam Lailatulqadar itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS Al-Qadr [97]: 3)

Beliau melanjutkan, 

قَالَ فِي الْمُسْتَوْعِبِ وَغَيْرِهِ: وَالدُّعَاءُ فِيهَا مُسْتَجَابٌ وَسُمِّيَتْ بِذَلِكَ لِأَنَّهُ يُقَدَّرُ فِيهَا مَا يَكُونُ فِي تِلْكَ السَّنَةِ أَوْ لِعِظَمِ قَدْرِهَا عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى، أَوْ لِضِيقِ الْأَرْضِ عَنْ الْمَلَائِكَةِ الَّتِي تَنْزِلُ فِيهَا وَلَمْ تُرْفَعُ

“Di kitab Al-Mustau’ib dan lainnya dikatakan: berdoa di dalamnya itu mustajab. Disebutkan demikian karena di dalamnya itu ditentukan setiap urusan pada satu tahun, atau karena keagungan yang telah ditetapkannya di sisi Allah Ta’ala, atau bumi itu menjadi sempit (sesak) dipenuhi oleh para malaikat yang turun dan tidak naik.

 (وَتُطْلَبُ)

لَيْلَةُ الْقَدْرِ (فِي الْعَشْرِ الْأَخِيرِ مِنْ رَمَضَانَ) فَهِيَ مُخْتَصَّةٌ بِهِ أَيْ الْعَشْرِ الْأَخِير مِنْهُ عِنْدَ أَحْمَدَ، وَأَكْثَرُ الْعُلَمَاءِ مِنْ الصَّحَابَةِ وَغَيْرِهِمْ

(dan mencari) malam Lailatulqadar (di 10 malam terakhir bulan ramadan) ini merupakan kekhususan 10 malam terakhir darinya menurut Imam Ahmad dan mayoritas ulama dan para sahabat dan selainnya.

(وَأَوْتَارُهُ)

 أَيْ: الْعَشْرِ الْأَخِير مِنْ رَمَضَانَ، وَهِيَ الْحَادِيَةُ وَالْعِشْرُونَ، وَالثَّالِثَةُ، وَالْخَامِسَةُ، وَالسَّابِعَة، وَالتَّاسِعَةُ، وَالْعِشْرُونَ

(dan memilihnya) yakni pada 10 malam terkahir dari Ramadan, malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29.

(آكَدُ)

 مِنْ غَيْرِ أَوْتَارِهِ 

(ditekankan) malam-malam tersebut daripada malam-malam selainnya.

(أَرْجَاهَا)

 أَيْ: لَيَالِي الْأَوْتَارِ (سَابِعَتُهُ) أَيْ الْعَشْرِ الْأَخِيرِ نَصًّا وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ عَبَّاسٍ وَأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ وَزِرِّ بْنِ حُبَيْشٍ لِحَدِيثِ مُعَاوِيَةَ مَرْفُوعًا «لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد

(yang paling kuat) yakni diantara malam-malam yang terpilih tadi (malam ke-27) dari sepuluh malam terakhir ini adalah nash (pendapat yang kuat dari Imam Ahmad, -pen.) dan ini merupakan pendapat Ibnu Abbas, Ubay bin Ka’ab, Wazir bin Hubaisy berdasarkan hadis dari Muawiyah secara marfu, “Lailatulqadar terjadi pada malam ke-27” diriwayatkan Abu Dawud.” (Daqâ`iq Ûlin Nuhâ, 1/196-197)

Hadis yang dimaksud ialah  dari Qatadah bahwa dia mendengar Muttharif dari Mu'awiyah bin Abu Sufyan radhiyallahu ‘anhu dari Nabi ﷺ mengenai Lailatulqadar, beliau bersabda, 

لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ

"Lailatulqadar adalah malam ke dua puluh tujuh." (HR Abu Dawud, no. 1178. Disahihkan oleh Al-Albani.”

Apa yang diucapkan ketika menemui malam Lailatulqadar?

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Kahmas, dia berkata; telah menceritakan kepadaku Ibnu Buraidah berkata; Aisyah radhiyallahu ‘anhu berkata, 

يَا نَبِيَّ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ وَافَقْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ

"Wahai Nabi Allah! Bagaimana menurutmu jika aku menemui malam Lailatulqadar, apa yang harus aku ucapkan?" 

قَالَ تَقُولِينَ اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Rasulullah ﷺ menjawab, "Hendaklah kamu mengucapkan: ALLAAHUMMA INNAKA AFUWWUN TUHIBBUL `AFWA FA`FU `ANNI (ya Allah Engkau adalah Maha Pengampun, Engkau suka mengampuni, maka ampunilah aku)." (HR Ahmad no. 24215. Dihasankan oleh Al-Wadi’I dalam Âhâdits Mu’allah no. 459)

Bagaimana tanda-tanda malam Lailatulqadar?

Telah menceritakan kepada kami Haiwah bin Syuraih telah bercerita kepada kami Baqiyyah telah bercerita kepadaku Bahir bin Sa'ad dari Khalid bin Ma'dan dari 'Ubadah bin Ash Shamit, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, 

إِنَّ أَمَارَةَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ أَنَّهَا صَافِيَةٌ بَلْجَةٌ كَأَنَّ فِيهَا قَمَرًا سَاطِعًا سَاكِنَةٌ سَاجِيَةٌ لَا بَرْدَ فِيهَا وَلَا حَرَّ وَلَا يَحِلُّ لِكَوْكَبٍ أَنْ يُرْمَى بِهِ فِيهَا حَتَّى تُصْبِحَ وَإِنَّ أَمَارَتَهَا أَنَّ الشَّمْسَ صَبِيحَتَهَا تَخْرُجُ مُسْتَوِيَةً لَيْسَ لَهَا شُعَاعٌ مِثْلَ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ وَلَا يَحِلُّ لِلشَّيْطَانِ أَنْ يَخْرُجَ مَعَهَا يَوْمَئِذٍ

"Tanda-tanda Lailatulqadar adalah malam yang terang sepertinya ada rembulan terbit, tenang, sunyi, tidak dingin, tidak panas, tidak dihalalkan bagi bintang-binatang untuk dilemparkan di malam itu hingga pagi, dan tanda-tandanya adalah di pagi harinya matahari terbit merata, pancaran cahayanya tidak seperti rembulan di malam purnama, dan tidak halal bagi setan untuk keluar di saat itu." (HR Ahmad no. 21702)

Wallahu ‘alam

Pemburu malam Lailatulqadar, 26 Ramadan 1443 H

Abu ‘Aashim Al-Hanbali


---

Pic: i.pinimg.com

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama