Gen Kitab Manârus Sabîl dan Irwâul Ghalîl



Dua kitab yakni Al-Muqni' karya Al-Muwaffaq Ibnu Qudamah (w. 620 H) dan At-Tanqîh karya Alauddin Al-Mardawi (w. 885 H) dikumpulkan dan diberi tambahan oleh Ibnu Najjar Al-Futuhi (w. 972 H) dalam kitabnya berjudul Muntaha Al-Irâdât. Kitab ini menjadi rujukan untuk mengetahui pendapat mu'tamad dalam mazhab Hanbali.

Lalu, Muntaha Al-Irâdât diringkas oleh Al-Allamah Mar'i Al-Karmi (w. 1033 H) menjadi matan fikih mu'tamad yang senantiasa dihafal dan dipelajari oleh Hanbaliyan berjudul Dalîl Ath-Thâlib li Nailil Mathâlib. 

Datanglah kemudian seorang alim dari negeri Nejd yakni Al-Faqih Ibnu Dhauyan (w. 1253 H) mensyarah kitab Dalil Ath-Thalib yang diberi judul Manârus Sabîl fi Syarhi Ad-Dalîl. Di dalamnya beliau menyebutkan dalil dan ta'lil terkait masail yang ada dalam matan Ad-Dalil. Tidak sedikit masyayikh yang berkhidmat untuk kitab ini dengan mensyarahnya kembali di antaranya ialah Syaikhuna Wahid Abdussalam Baali dan Syaikhuna Nur Sya'lan.

Sebagi bentuk khidmah kepada ilmu secara umum dan kitab Manârus Sabîl secara khusus, seorang muhadits dari Syam yakni Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani (w. 1420) mentakhrij hadits-hadits yang ada di Manarus Sabil dengan judul Irwâul Ghalîl fi Takhrîji Âhadiîs Manârus Sabîl.

Syaikhul Hanabilah di zaman ini sekaligus Rais Pengadilan Tinggi Saudi Al-Allamah Al-Faqih Abdullah bin Abdul Aziz bin Aqil dalam pengantarnya terhadap kitab Manârus Sabîl memberikan testimoni terkait khidmah yang dilakukan oleh Syaikh Al-Albani,
"Usaha beliau ini merupakan khidmat yang besar untuk kitab Manarus Sabil yang mengumpulkan ensiklopedi ilmiah antara al-masail dan ad-dalail." (Lihat taqdim Manârus Sabîl hal. 5, Dâr Al-Faryâbi)

Tak ada gading yang tak retak, Irwaul Ghalil disempurnakan dua orang ulama yang tidak diragukan lagi ilmu dan khidmatnya yakni oleh Samahatusy Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh dengan judul At-Takmîl Limâfâta Takhrîjihi min Irwâil Ghalîl dan oleh Al-Haifzh Al-Alim Syaikh Abdul Aziz bin Marzuq Ath-Tharifi -semoga Allah memberinya kesabaran,  keteguhan di atas kebenaran, dan membebaskannya- dengan judul At-Tahjîl fi Takhriji Mâ Lam Yukhrij minal Âhadîtsi wal Âtsâri fi Irwâil Ghalîl.

Itulah gen kitab Manârus Sabîl dan Irwâul Ghalîl. Di mana para penuntut ilmu mendulang faedah dari keduanya. Tentulah jika ada kekurangan di dalamnya menjadi tugas bagi para penuntut ilmu untuk menyempurnakannya.

Jerih payah yang dilakukan oleh para ulama baik dalam bentuk daras, ikhtishar, syarah, hasyiah, taklik, tahkik, maupun takhrij perlu kita apresiasi meskipun misalnya ada kekurangan. Hal ini tidaklah menjadikannya aib sehingga menolak semua usaha tersebut. Jika kita memiliki ilmu tentangnya, maka meneliti kembali setiap pendapat yang ada merupakan kebaikan bukan tidak mengindahkannya sama sekali. 

Wallahu 'alam.

Abahnya 'Aashim
20 Ramadan 1443


---
Pic: Dokumentasi pribadi sunnahedu.com
Previous Post
Next Post

Mahasiswa Kulliyatul Ulum al Syari'ah wa al Arabiyyah Safwa University, Mesir. Bergelut di dunia dakwah dan pendidikan. Pernah bersimpuh di Ponpes Syekh Jamilurrahman as-Salafi Yogyakarta.

Related Posts

0 Post a Comment: