Ada Apa dengan Doa?


Berdoa merupakan rutinitas yang tidak pernah lepas dari kehidupan seorang muslim. Dia menghiba kepada Zat Yang Maha Kuasa atas segala yang dia harapkan. Dia merapalkannya baik di keheningan malam maupun di hiruk pikuk kegiatan sehari-harinya. Apa tujuannya? Agar Allah Subhanahu wa Ta’ala memperbaiki segala urusannya.


Doa secara bahasa artinya ath-thalab, permintaan. Adapun secara istilah adalah 


توجه العبد إلى ربه فيما يحتاجه لإصلاح دينه ودنياه


Seorang hamba berpaling kepada Rabb-nya ketika dia membutuhkan segala sesuatu untuk memperbaiki agama dan dunianya. (Islamweb)


Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,


وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ


Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS Al-Baqarah [2]: 186)


Dalam menafsirkan ayat ini Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata:


“Barang siapa yang berdoa kepada Rabbnya dengan hati yang hadir dan doa yang disyariatkan, lalu tidak ada suatu hal yang menghalanginya dari terkabulnya doa, seperti makanan haram dan sebagainya, maka sesungguhnya Allah telah menjadikan baginya doa yang terkabul, khususnya bila dia mengerjakan sebab-sebab terkabulnya doa, yaitu kepasrahan kepada Allah dengan ketaatan kepada perintah perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, baik dalam perkataan maupun perbuatan, beriman kepada-Nya yang mengharuskan timbulnya penerimaan tersebut.” (Tafsir As-Sa’di)


Dan Allah Ta’ala berfirman,


وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ


Dan Tuhan kalian berfirman : ‘Berdoalah kalian kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan bagi kalian’. Sesungguhnya, orang-orang yang sombong dari beribadah kepada-Ku, akan masuk neraka dalam keadaan hina dina.” (QS Ghafir [40]: 60)


Dalam Tafsir As-Sa’di disebutkan bahwa ini adalah bagian dari kelembutan Allah terhadap hamba-hamba-Nya dan nikmat-Nya yang sangat besar, di mana Dia menyeru mereka kepada apa yang di dalamnya terdapat kebaikan bagi agama dan dunia mereka.


Dia perintahkan mereka untuk berdoa dengan doa ibadah dan doa permohonan dan Dia berjanji kepada mereka akan mengabulkannya. Sebaliknya Dia pun mengancam siapa yang menyombongkan diri terhadapnya, seraya berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka dalam keadaan hina dina.” Maksudnya, dengan nista dan terhina, azab dan penghinaan ditimpakan terhadapnya sebagai balasan atas kesombongannya.


Doa adalah Ibadah


Dari Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:


إِنَّ اَلدُّعَاءَ هُوَ اَلْعِبَادَةُ


 “Sesungguhnya doa adalah ibadah.” (HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibnu Majah. Hadits ini shahih menurut At-Tirmidzi)


Apa itu ibadah? 


الْعِبَادَةُ هِيَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ تَعَالَى وَيَرْضَاهُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ


Ibadah adalah suatu istilah yang mencakup setiap perkara yang dicintai dan diridhai oleh Allah Ta'ala; baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang batin maupun yang zhahir.


Karena doa adalah ibadah maka harus memenuhi dua syarat yaitu ikhlas karena Allah Ta’ala semata dan mutaba’ah yakni sesuai dengan petunjuk Nabi-Nya ﷺ.


Terkait ibadah itu harus ikhlas karena-Nya, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,


 وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ


Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allâh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS Al-Bayyinah [98]: 5)


Dan Rasulullah ﷺ bersabda,


إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلاَّ مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ 


Sesungguhnya Allah tidak akan menerima dari semua jenis amalan kecuali yang murni untuk–Nya dan untuk mencari wajah–Nya.” (HR An-Nasai. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah)

Adapun masalah ibadah itu harus mengikuti petunjuk Rasul-Nya ﷺ berdasarkan firman-Nya,


وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا 


Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dia larang kepadamu, maka tinggalkanlah.” (QS Al-Hasyr [59]: 7)


Nabi ﷺ bersabda: 


مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ 


Barangsiapa membuat perkara baru di dalam urusan kami (agama) ini, apa-apa yang bukan padanya, maka itu tertolak.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)


Doa Ada Dua Jenis


Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,


والدعاء نوعان: دعاء عبادة، و دعاء مسألة


“Doa itu ada dua jenis yaitu doa ibadah dan doa mas’alah.”


Doa ibadah adalah seseorang beribadah kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, dalam rangka mendapatkan pahala dari-Nya dan takut terhadap siksa-Nya. 


Doa mas`alah adalah permintaan kebutuhan. Apabila doa mas`alah ini berasal dari hamba ditujukan kepada Allah, maka termasuk ibadah, karena mengandung sikap butuh kepada Allah dan mengandung pula keyakinan bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu dan Maha Luas Pemberian dan Rahmat-Nya.


Oleh sebab itu, doa ibadah maupun doa mas’alah tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla sebab ini adalah syirik akbar yang dapat menggugurkan seluruh amal dan menyebabkan kekal di dalam neraka.


Syirik adalah


تَسْوِيَةُ غَيْرِ اللهِ بِاللهِ فِيْمَا هُوَ مِنْ خَصَائِصِهِ سُبْحَانَهُ 


“Menyamakan selain Allah dengan Allah di dalam perkara yang termasuk kekhususan-kekhususan Allah Yang Maha Suci.” 


Allah Ta’ala berfirman,


وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ


Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu berbuat syirik, niscaya akan terhapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi” (QS Az Zumar [39]: 65)


Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitakan bahwa Dia tidak akan mengampuni dosa syirik, hal ini jika pelakunya tidak bertaubat. Dia ‘Azza wa Jalla berfirman,


 إِنَّ اللهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَادُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَآءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا 


Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS An-Nisa` [4]:48)


Khatimah


Agar doa dan segala amal kita murni hanya untuk Allah Ta’ala semata, maka perlu kiranya mengamalkan salah satu doa yang senantiasa dipanjatkan oleh Amirul Mukminin Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu yakni


اللهُمَّ اجْعَلْ عَمَلِي كُلَّهُ صَالِحًا، وَاجْعَلْهُ لِوَجْهِكَ خَالِصًا، وَلاَ تَجْعَل لأِحَدٍ فِيْهِ شَيْئًا


“Ya Allah, jadikanlah seluruh amalanku amal yang saleh, jadikanlah seluruh amalanku hanya karena ikhlas mengharap wajahmu, dan jangan jadikan sedikitpun dari amalanku tersebut karena orang lain.” (Az-Zuhd karya Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah hal. 617)


[ ]

Pertengahan Sya’ban 1443 H


Yang mengharap ampunan dari Rabb-nya,

Abu ‘Aashim Nanang Ismail

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama