Find Us OIn Facebook


๐Ÿ”ฐ Apakah masih ada peninggalan-peninggalan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada zaman sekarang ini? Di mana ada sebagian orang yang meyakini bahwa ada rambut Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam, atau sandalnya, atau semisalnya.

๐Ÿ‘‰ Peninggalan-peninggalan beliau berupa hadis, sunah, adab, akhlak, dan muamalahnya terjaga di kitab-kitab hadis dengan sanad yang sahih.

๐Ÿ”– Adapun yang berkaitan dengan peninggalan-peninggalan beliau seperti rambut, sandal, tongkat, atau semisalnya apakah benda-benda tersebut masih ada di zaman sekarang ini? Jawaban atas hal ini mengandung beberapa hal:
1. Peninggalan-peninggalan beliau shallallahu 'alaihi wa sallam jumlahnya sangat sedikit.
2. Peninggalan-peninggalan tersebut berangsur-angsur hilang seiring berjalannya waktu yang disebabkan pertikaian intern kaum muslimin ataupun terjadinya perang. Termasuk sebab hilangnya adalah karena wasiat beberapa sahabat agar peninggalan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang ia miliki dikubur bersamanya ketika ia wafat, sebagaimana dilakukan oleh Sahl bin Sa'ad radhiyallahu 'anhu.
3. Tidak adanya bukti kuat bahwa peninggalan-peninggalan yang ada merupakan milik Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Sehingga tidak boleh ada orang yang mencari berkah dengan sesuatu yang konon diduga sebagai benda peninggalan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

๐Ÿšซ *Peringatan!*
▶️ Sebagian orang ada yang berlebih-lebihan dalam masalah peninggalan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahkan sampai taraf mengkultuskannya yang hal ini dapat memberi pengaruh yang besar kepada akidah mereka.

⛔ Di antara hal yang sangat disayangkan adalah menyebarnya gambar sandal Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di situs-situs internet. Yang belum tentu itu adalah benar sandal beliau shallallahu 'alaihi wa sallam. Kemudian ada orang yang mencari berkah darinya, padahal itu tidak bisa dibuktikan dengan sanad yang sahih. Sekiranya hal itu terbukti benar, maka gambar itu bukan sandal yang mengandung berkah.

✅ Oleh karenanya, sepatunya seorang muslim itu tidak berlebih-lebihan. Ia tidak membahayakan agama dan akidahnya. Jangan sampai sikap emosional mendorongnya untuk terjerumus ke dalam kekeliruan yang diakhiri penyesalan.

Wallahu 'alam

๐Ÿ“š Diadaptasi dari Syarah Syama'ilin Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam karya Syekh Abdurrazzaq Al-Badr hafizhahullah

✍️ Abahnya 'Aashim
t.me/sunnaheduofficial

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama