Ibnu Taimiyah di Hati Hanabilah

Syaikhul Islam Taqiyuddin Abul Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abul Barakat bin Taimiyah rahimahumullâh sosok ulama yang memiliki kedudukan yang luhur dan istimewa di hati Hanabilah.

Beliau orang yang membuat bangga mazhab ini. Permata yang agung. Mutiara yang berharga. Emas yang murni. Sungai yang mengalir deras. Allah Taala mengaruniakannya ilmu yang luas, pemahaman yang objektif, sehingga jadilah beliau seolah seperti lautan tanpa pantai dan seperti sungai tanpa ujung.

Alauddin Al-Mardawi seorang munaqqih dan muharar mazhab di kitabnya At-Tahbîr Syarh At-Tahrîr menyebutkan bahwa Taqiyuddin Ibnu Taimiyah termasuk di antara mujtahidin yang lahir dari umat ini. 

Hanabilah senantiasa mengambil manfaat dari ilmunya dan memperhatikan pendapatnya. Kitab-kitab mereka dipenuhi dengan aqwalnya. Iktiyaratnya selalu disertakan sebagai penguat dalam suatu permasalahan. Dengan demikian, pendapat-pendapatnya menghiasai kitab-kitab mereka. 

Tidaklah Hanabilah dari dulu bahkan sampai hari ini kecuali mereka mengagungkan dan memuliakannya. Serta menukil perkataan-perkataannya di kitab-kitab dan tulisan-tulisan mereka. 

Sebut saja Ibnu Muflih di kitabnya Al-Furû' menyebutkannya dengan "Syaikhuna". Al-Mardawi banyak menukil darinya di kitab Al-Inshâf dan Tashîhul Furû'. Begitupula al-Hajjawi tidak sedikit menyertakan pendapatnya di kitab Al-Iqnâ' dengan redaksi "Qâla Asy-Syaikh". Tak ketinggalan Mar'ie Al-Karmi pun menukil pandangan-pandangan beliau di kitabnya Ghâyah Al-Muntahâ. Bahkan di kitab Muntahâ Al-Irâdât karya Ibnu Najjar masail yang ada di dalamnya itu asalnya dari aqwal Syaikhul Islam. 

Jadi, para muhaqiq dan ahlut tashih mazhab ini selalu memperhatikan dan menukil pendapat-pendapatnya, maka apalah kita dibandingkan mereka? Dan bagaimana keadaan sebagian orang yang di hatinya menyimpan sesuatu terhadap Syaikhul Islam yang mengatakan beliau ini tidak memiliki kedudukan di dalam mazhab ini? Aduhai apa yang akan dikatakannya? Bahkan para ulama yang berbeda dengannya dalam urusan itikad mengakui kedudukannya. 

Oleh karena itu, hati-hati melempar batu jika kita tinggal di rumah kaca.

----
Tulisan di atas sekadar catatan dan refleksi saya hasil dari membaca buku di bawah, bukan maksud lain.

Nanang Ismail

Pic.: Dokumen pribadi

Mau Dapat Pahala Puasa Selama Setahun?


Ramadan telah pergi meninggalkan kita. Banyak amalan ibadah yang dilakukan ketika bulan tersebut. Kini kita telah berada di bulan Syawal. Dalam rangka tetap melakukan ketaatan kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala dan sebagai bentuk kecintaan seorang muslim kepada ibadah puasa, maka sepatutnya kita melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal yang pahalanya setara dengan puasa selama setahun.

Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallâhu 'anhu, bahwa ia telah menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

"Siapa yang berpuasa Ramadan, kemudian diiringi dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka yang demikian itu seperti berpuasa satu tahun." (HR Muslim no. 1984)

Tafsir hadis:

Imam Nawawi rahimahullâh berkata:

“Ini merupakan dalil jelas yang menjadi pedoman mazhab Imam Syafi’I, Ahmad, Dawud, dan orang-orang yang sependapat dengan mereka, bahwa puasa enam hari di bulan Syawal hukumnya sunah.” (Syarh An-Nawawi ‘alâ Muslim, 8/56)

Al-Muwaffaq Ibnu Qudamah rahimahullâh berkata:

“Berpuasa enam hari di bulan Syawal, menurut sebagian besar ulama, adalah sunah. Berdasarkan hadis yang diriwayatkan Ka’ab Al-Ahbar, Asy-Sya’bi, dan Maimun bin Mihran. Imam Syafi’I dalam hal ini berpendapat sama dengan pendapat ini. Sedangkan Imam Malik memakruhkannya.” (Al-Mughnî, 3/176)

Alasan Imam Malik rahimahullâh mengatakan makruh karena beliau tidak melihat satu orang pun dari ahli fikih yang melakukan puasa pada bulan Syawal dan beliau belum pernah mendengarnya dari ulama salaf. Dengan demikian, hal tersebut dinyatakan makruh agar orang-orang tidak menyangkanya sebagai puasa wajib. Wallahu ‘alam.

Mengapa seperti berpuasa setahun?

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullâh berkata,

من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال فكانما صام الدهر فسر العلماء ذلك بأن الحسنة بعشر أمثالها فيكون رمضان شهرا بعشرة أشهر ويكون الستة أيام بستين يوما وهم شهران فعلى هذا يسن للإنسان إذا أتم صيام رمضان أن يصوم ستة من شوال

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadan, kemudian diiringi dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka yang demikian itu seperti berpuasa satu tahun; para ulama menjelaskan bahwa hal itu satu kebaikan dibalas dengan sepuluh yang semisalnya. Sehingga Ramadan adalah satu bulan yang kebaikannya setara dengan sepuluh bulan dan enam hari di bulan Syawal setara dengan enam puluh hari yakni dua bulan. Berdasarkan hal tersebut, disunahkan bagi seseorang yang telah menyelesaikan puasa Ramadannya, untuk berpuasa enam hari di bulan Syawal.” (Syarh Riyâdh Ash-Shâlihîn, 5/305)

Jadi,

Ramadan 30 hari x 10 = 300, setara dengan 10 bulan

Syawal 6 hari x 10 = 60, setara dengan 2 bulan

Sehingga totalnya menjadi 360 hari, setara dengan 12 bulan atau satu tahun.

Yang dimaksud satu tahun di sini adalah satu tahun qamariyah.

Faedah hadis:

  1. Dianjurkannya berpuasa enam hari di bulan Syawal.
  2. Hal ini merupakan mazhab salaf dan khalaf, serta jumhur ulama. Diantaranya ialah Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’I, dan Imam Ahmad rahimahumullâh.
  3. Pahala orang yang berpuasa Ramadan lalu dia puasa enam hari di Syawal maka pahalanya seperti berpuasa selama satu tahun.
  4. Dianjurkan melakukan puasa enam hari di bulan Syawal ini setelah hari Id secara langsung enam hari berturut-turut. Tujuannya adalah menyegerakan kebaikan dan ketaatan. Jika ingin dipisah-pisah yang penting dapat enam hari selama di bulan Syawal maka dibolehkan.
  5. Jika memiliki hutang puasa Ramadan, baiknya lunasi dulu hutangnya. Baru setelah itu puasa enam hari di bulan Syawal. Sebab amalan yang wajib sepatutnya didahulukan daripada amalan yang sunah.

Wallahu ‘alam.

Siang di hari ketiga Syawal 1443 H

Nanang Ismail

---

Pic.: pixabay/ahmedsaborty

Hadis Allâhumma Innaka ‘Afuwwun


حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ كَهْمَسِ بْنِ الْحَسَنِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ وَافَقْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ مَا أَدْعُو قَالَ تَقُولِينَ اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Waki' dari Kahmas bin Al Hasan dari Abdullah bin Buraidah dari 'Aisyah bahwa dia berkata, "Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku ketepatan mendapatkan malam Lailatulqadar, apa yang harus aku ucapkan?", beliau menjawab, "Ucapkanlah; ALLÂHUMMA INNAKA AFUWWUN TUḤIBBUL `AFWA FA`FU `ANNI (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau suka mengampuni, maka ampunilah aku)." (HR Ibnu Majah no. 3840. Disahihkan oleh Al-Albani)

Hadis ini merupakan hadis yang bagus sekali yang di dalamnya sarat mengandung faedah.

Perkataan Aisyah radhiyallahu ‘anha

اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ وَافَقْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ 

“Apa pendapatmu jika aku ketepatan mendapatkan malam Lailatulqadar …” Ini merupakan isyarat mengetahui malam Lailatulqadar berdasarkan sangkaan yang kuat sesuai dengan tanda-tanda yang telah ditetapkan berdasarkan kabar darinya ﷺ.

Dari Zirr ia berkata, saya mendengar Ubay bin Ka'ab berkata, dan telah dikatakan kepadanya bahwa Abdullah bin Mas'ud berkata, 

مَنْ قَامَ السَّنَةَ أَصَابَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ

"Siapa yang melakukan shalat malam sepanjang tahun, niscaya ia akan menemui malam Lailatulqadar."  

Ubay berkata,

وَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ إِنَّهَا لَفِي رَمَضَانَ يَحْلِفُ مَا يَسْتَثْنِي وَ وَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْلَمُ أَيُّ لَيْلَةٍ هِيَ هِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقِيَامِهَا هِيَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِي صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لَا شُعَاعَ لَهَا

"Demi Allah yang tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah, sesungguhnya malam itu terdapat dalam bulan Ramadan. Dan demi Allah, sesungguhnya aku tahu malam apakah itu. Lailatulqadar itu adalah malam, dimana Rasulullah ﷺ memerintahkan kami untuk menegakkan shalat di dalamnya, malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke dua puluh tujuh (dari bulan Ramadan). Dan tanda-tandanya ialah, pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa sinar yang menyorot." (HR Muslim no. 1272)

Dari 'Ubadah bin Ash Shamit, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, 

إِنَّ أَمَارَةَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ أَنَّهَا صَافِيَةٌ بَلْجَةٌ كَأَنَّ فِيهَا قَمَرًا سَاطِعًا سَاكِنَةٌ سَاجِيَةٌ لَا بَرْدَ فِيهَا وَلَا حَرَّ وَلَا يَحِلُّ لِكَوْكَبٍ أَنْ يُرْمَى بِهِ فِيهَا حَتَّى تُصْبِحَ وَإِنَّ أَمَارَتَهَا أَنَّ الشَّمْسَ صَبِيحَتَهَا تَخْرُجُ مُسْتَوِيَةً لَيْسَ لَهَا شُعَاعٌ مِثْلَ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ وَلَا يَحِلُّ لِلشَّيْطَانِ أَنْ يَخْرُجَ مَعَهَا يَوْمَئِذٍ

"Tanda-tanda Lailatulqadar adalah malam yang terang sepertinya ada rembulan terbit, tenang, sunyi, tidak dingin, tidak panas, tidak dihalalkan bagi bintang-binatang untuk dilemparkan di malam itu hingga pagi, dan tanda-tandanya adalah di pagi harinya matahari terbit merata, pancaran cahayanya tidak seperti rembulan di malam purnama, dan tidak halal bagi setan untuk keluar di saat itu." (HR Ahmad no. 21702)

Perkataan Aisyah radhiyallahu ‘anha,

مَا أَدْعُو

“Apa yang harus aku ucapkan?”

Menunjukan semangat dan keingintahuan untuk melakukan suatu amal kenaikan. Sudah sepatutnya seorang murid dia bertanya kepada gurunya terkait urusan yang tidak diketahuinya. Dengan demikian dia terbebas dari ketidaktahuan. Inilah pentingnya bertanya. Dan dalam hadis ini menggunakan metode tanya jawab yang dimana tujuannya adalah untuk membiasakan seorang murid itu mengungkapkan apa-apa yang terlintas dalam pikirannya dengan ungkapan yang teratur dan sistematis. Dengan adanya merode tanya jawab juga mengajarkan murid untuk berani menyampaikan pertanyaannya sehingga mendorongnya untuk memahami suatu permasalahan.

Kemudian, sebagai seorang murabbi yang penuh kasih sayang, Rasulullah ﷺ menjawab pertanyaan Aisyah radhiyallahu ‘anha,

قَالَ تَقُولِينَ اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

beliau menjawab, "Ucapkanlah; ALLÂHUMMA INNAKA AFUWWUN TUḤIBBUL `AFWA FA`FU `ANNI (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau suka mengampuni, maka ampunilah aku)."

Dalam doa ini mengandung pelajaran bahwa kita itu hamba-Nya yang lemah dan hina yang memohon pengampunan kepada Zat Yang Maha Tinggi. Hal ini menunjukan kelemahan kita sebagai seorang makhluk yang banyak melakukan kesalahan. Dengan memohon pengampunan berarti kita meminta kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala agar Dia memaafkan segala kejelekan niat dan perilaku kita yang menyebabkan kita terjerumus ke dalam lembah dosa. Doa yang indah, yang sudah selayaknya dipanjatkan ketika ketepatan mendapatkan malam Lailatulqadar. 

Ya Rabbi, hamba-Mu yang lemah ini meminta pemaafan

Ya Rabbi, hamba-Mu yang lemah ini memohon kasih sayang

Ya Rabbi, hamba-Mu yang hina ini mengarapkan ampunan dari-Mu

Betapa banyak dosa dan kesalahanku yang kuperbuat yang aku khilaf

Hanya kepada-Mu Ya Rabbi, aku kembali

Ampunilah aku 

[ ]

Yang mengharapkan bertemu malam Lailatulqadar, 26 Ramadan 1443 H

Abu ‘Aashim Nanang Ismail

Lailatulqadar Malam yang Paling Utama

Hari-hari yang telah Allah Tabaraka wa Ta’ala ciptakan ada hari yang paling utama, yakni hari Jumat.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda,

خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا وَلاَ تَقُومُ السَّاعَةُ إِلاَّ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ

Sebaik-baik hari dimana matahari terbit di saat itu adalah hari Jum’at. Pada hari ini Adam diciptakan, hari ketika ia dimasukan ke dalam Surga dan hari ketika ia dikeluarkan dari Surga. Dan hari Kiamat tidak akan terjadi kecuali pada hari Jumat.” (HR Muslim, no. 854)

Selain itu, Allah ‘Azza wa Jalla memberikan kesempatan kepada hamba-Nya untuk memperbanyak amal saleh di hari-hari terbaik yakni 10 hari pertama di bulan Zulhijah.

Diriwayatkan dai Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda,

ما من أيَّامٍ أعظَمُ عندَ اللهِ ولا أحَبُّ إليه العَمَلُ فيهِنَّ من هذه الأيَّامِ العَشْرِ، فأكْثِروا فيهِنَّ من التَّهْليلِ والتَّكْبيرِ والتَّحْميدِ

Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir, dan tahmid.” (HR Ahmad, no. 6154. Disahihkan oleh Syuaib Al-Arnauth)

Oleh karena itu, Al-Allamah Manshur bin Yunus Al-Buhuti Al-Hanbali rahimahullah dalam Daqâ`iq Ûlin Nuhâ syarah atas Muntahâ Al-Irâdât mengatakan,

فَصْلٌ أَفْضَلُ الْأَيَّامِ

يَوْمُ الْجُمُعَةِ قَالَ الشَّيْخُ تَقِيُّ الدِّينِ: هُوَ أَفْضَلُ أَيَّامِ الْأُسْبُوعِ إجْمَاعً

Pasal Hari-hari yang Paling Utama

Ialah hari Jumat. Syekh Taqiyyudin berkata: Ia merupakan hari yang paling utama dalam satu pekan secara ijma.

وَقَالَ: يَوْمُ النَّحْرِ أَفْضَلُ أَيَّامِ الْعَامِ وَكَذَا قَالَ جَدُّهُ الْمَجْدُ

Dan kakeknya yakni Al-Majd berkata: Hari Nahar merupakan hari-hari yang paling utama dalam satu tahun. (Daqâ`iq Ûlin Nuhâ, 1/196)

Lalu bagaimana dengan malam hari? Malam apakah yang paling utama?

Masih di halaman yang sama Al-Allamah Al-Buhuti rahimahullah berkata,

(وَ) 

أَفْضَلُ (اللَّيَالِي: لَيْلَةُ الْقَدْرِ) لِلْآيَةِ وَذَكَرَهُ الْخَطَّابِيِّ إجْمَاعًا وَهِيَ لَيْلَةٌ مُعَظَّمَ

“(Dan) yang paling utama (malam itu adalah malam Lailatulqadar) sebagaimana yang disebutkan dalam ayat dan Al-Khathabi menyebutkannya sebagai ijma. Yakni suatu malam yang agung.”

Ayat yang dimaksud adalah

لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ 

Malam Lailatulqadar itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS Al-Qadr [97]: 3)

Beliau melanjutkan, 

قَالَ فِي الْمُسْتَوْعِبِ وَغَيْرِهِ: وَالدُّعَاءُ فِيهَا مُسْتَجَابٌ وَسُمِّيَتْ بِذَلِكَ لِأَنَّهُ يُقَدَّرُ فِيهَا مَا يَكُونُ فِي تِلْكَ السَّنَةِ أَوْ لِعِظَمِ قَدْرِهَا عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى، أَوْ لِضِيقِ الْأَرْضِ عَنْ الْمَلَائِكَةِ الَّتِي تَنْزِلُ فِيهَا وَلَمْ تُرْفَعُ

“Di kitab Al-Mustau’ib dan lainnya dikatakan: berdoa di dalamnya itu mustajab. Disebutkan demikian karena di dalamnya itu ditentukan setiap urusan pada satu tahun, atau karena keagungan yang telah ditetapkannya di sisi Allah Ta’ala, atau bumi itu menjadi sempit (sesak) dipenuhi oleh para malaikat yang turun dan tidak naik.

 (وَتُطْلَبُ)

لَيْلَةُ الْقَدْرِ (فِي الْعَشْرِ الْأَخِيرِ مِنْ رَمَضَانَ) فَهِيَ مُخْتَصَّةٌ بِهِ أَيْ الْعَشْرِ الْأَخِير مِنْهُ عِنْدَ أَحْمَدَ، وَأَكْثَرُ الْعُلَمَاءِ مِنْ الصَّحَابَةِ وَغَيْرِهِمْ

(dan mencari) malam Lailatulqadar (di 10 malam terakhir bulan ramadan) ini merupakan kekhususan 10 malam terakhir darinya menurut Imam Ahmad dan mayoritas ulama dan para sahabat dan selainnya.

(وَأَوْتَارُهُ)

 أَيْ: الْعَشْرِ الْأَخِير مِنْ رَمَضَانَ، وَهِيَ الْحَادِيَةُ وَالْعِشْرُونَ، وَالثَّالِثَةُ، وَالْخَامِسَةُ، وَالسَّابِعَة، وَالتَّاسِعَةُ، وَالْعِشْرُونَ

(dan memilihnya) yakni pada 10 malam terkahir dari Ramadan, malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29.

(آكَدُ)

 مِنْ غَيْرِ أَوْتَارِهِ 

(ditekankan) malam-malam tersebut daripada malam-malam selainnya.

(أَرْجَاهَا)

 أَيْ: لَيَالِي الْأَوْتَارِ (سَابِعَتُهُ) أَيْ الْعَشْرِ الْأَخِيرِ نَصًّا وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ عَبَّاسٍ وَأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ وَزِرِّ بْنِ حُبَيْشٍ لِحَدِيثِ مُعَاوِيَةَ مَرْفُوعًا «لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد

(yang paling kuat) yakni diantara malam-malam yang terpilih tadi (malam ke-27) dari sepuluh malam terakhir ini adalah nash (pendapat yang kuat dari Imam Ahmad, -pen.) dan ini merupakan pendapat Ibnu Abbas, Ubay bin Ka’ab, Wazir bin Hubaisy berdasarkan hadis dari Muawiyah secara marfu, “Lailatulqadar terjadi pada malam ke-27” diriwayatkan Abu Dawud.” (Daqâ`iq Ûlin Nuhâ, 1/196-197)

Hadis yang dimaksud ialah  dari Qatadah bahwa dia mendengar Muttharif dari Mu'awiyah bin Abu Sufyan radhiyallahu ‘anhu dari Nabi ﷺ mengenai Lailatulqadar, beliau bersabda, 

لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ

"Lailatulqadar adalah malam ke dua puluh tujuh." (HR Abu Dawud, no. 1178. Disahihkan oleh Al-Albani.”

Apa yang diucapkan ketika menemui malam Lailatulqadar?

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Kahmas, dia berkata; telah menceritakan kepadaku Ibnu Buraidah berkata; Aisyah radhiyallahu ‘anhu berkata, 

يَا نَبِيَّ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ وَافَقْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ

"Wahai Nabi Allah! Bagaimana menurutmu jika aku menemui malam Lailatulqadar, apa yang harus aku ucapkan?" 

قَالَ تَقُولِينَ اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Rasulullah ﷺ menjawab, "Hendaklah kamu mengucapkan: ALLAAHUMMA INNAKA AFUWWUN TUHIBBUL `AFWA FA`FU `ANNI (ya Allah Engkau adalah Maha Pengampun, Engkau suka mengampuni, maka ampunilah aku)." (HR Ahmad no. 24215. Dihasankan oleh Al-Wadi’I dalam Âhâdits Mu’allah no. 459)

Bagaimana tanda-tanda malam Lailatulqadar?

Telah menceritakan kepada kami Haiwah bin Syuraih telah bercerita kepada kami Baqiyyah telah bercerita kepadaku Bahir bin Sa'ad dari Khalid bin Ma'dan dari 'Ubadah bin Ash Shamit, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, 

إِنَّ أَمَارَةَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ أَنَّهَا صَافِيَةٌ بَلْجَةٌ كَأَنَّ فِيهَا قَمَرًا سَاطِعًا سَاكِنَةٌ سَاجِيَةٌ لَا بَرْدَ فِيهَا وَلَا حَرَّ وَلَا يَحِلُّ لِكَوْكَبٍ أَنْ يُرْمَى بِهِ فِيهَا حَتَّى تُصْبِحَ وَإِنَّ أَمَارَتَهَا أَنَّ الشَّمْسَ صَبِيحَتَهَا تَخْرُجُ مُسْتَوِيَةً لَيْسَ لَهَا شُعَاعٌ مِثْلَ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ وَلَا يَحِلُّ لِلشَّيْطَانِ أَنْ يَخْرُجَ مَعَهَا يَوْمَئِذٍ

"Tanda-tanda Lailatulqadar adalah malam yang terang sepertinya ada rembulan terbit, tenang, sunyi, tidak dingin, tidak panas, tidak dihalalkan bagi bintang-binatang untuk dilemparkan di malam itu hingga pagi, dan tanda-tandanya adalah di pagi harinya matahari terbit merata, pancaran cahayanya tidak seperti rembulan di malam purnama, dan tidak halal bagi setan untuk keluar di saat itu." (HR Ahmad no. 21702)

Wallahu ‘alam

Pemburu malam Lailatulqadar, 26 Ramadan 1443 H

Abu ‘Aashim Al-Hanbali


---

Pic: i.pinimg.com

Gen Kitab Manârus Sabîl dan Irwâul Ghalîl



Dua kitab yakni Al-Muqni' karya Al-Muwaffaq Ibnu Qudamah (w. 620 H) dan At-Tanqîh karya Alauddin Al-Mardawi (w. 885 H) dikumpulkan dan diberi tambahan oleh Ibnu Najjar Al-Futuhi (w. 972 H) dalam kitabnya berjudul Muntaha Al-Irâdât. Kitab ini menjadi rujukan untuk mengetahui pendapat mu'tamad dalam mazhab Hanbali.

Lalu, Muntaha Al-Irâdât diringkas oleh Al-Allamah Mar'i Al-Karmi (w. 1033 H) menjadi matan fikih mu'tamad yang senantiasa dihafal dan dipelajari oleh Hanbaliyan berjudul Dalîl Ath-Thâlib li Nailil Mathâlib. 

Datanglah kemudian seorang alim dari negeri Nejd yakni Al-Faqih Ibnu Dhauyan (w. 1253 H) mensyarah kitab Dalil Ath-Thalib yang diberi judul Manârus Sabîl fi Syarhi Ad-Dalîl. Di dalamnya beliau menyebutkan dalil dan ta'lil terkait masail yang ada dalam matan Ad-Dalil. Tidak sedikit masyayikh yang berkhidmat untuk kitab ini dengan mensyarahnya kembali di antaranya ialah Syaikhuna Wahid Abdussalam Baali dan Syaikhuna Nur Sya'lan.

Sebagi bentuk khidmah kepada ilmu secara umum dan kitab Manârus Sabîl secara khusus, seorang muhadits dari Syam yakni Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani (w. 1420) mentakhrij hadits-hadits yang ada di Manarus Sabil dengan judul Irwâul Ghalîl fi Takhrîji Âhadiîs Manârus Sabîl.

Syaikhul Hanabilah di zaman ini sekaligus Rais Pengadilan Tinggi Saudi Al-Allamah Al-Faqih Abdullah bin Abdul Aziz bin Aqil dalam pengantarnya terhadap kitab Manârus Sabîl memberikan testimoni terkait khidmah yang dilakukan oleh Syaikh Al-Albani,
"Usaha beliau ini merupakan khidmat yang besar untuk kitab Manarus Sabil yang mengumpulkan ensiklopedi ilmiah antara al-masail dan ad-dalail." (Lihat taqdim Manârus Sabîl hal. 5, Dâr Al-Faryâbi)

Tak ada gading yang tak retak, Irwaul Ghalil disempurnakan dua orang ulama yang tidak diragukan lagi ilmu dan khidmatnya yakni oleh Samahatusy Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh dengan judul At-Takmîl Limâfâta Takhrîjihi min Irwâil Ghalîl dan oleh Al-Haifzh Al-Alim Syaikh Abdul Aziz bin Marzuq Ath-Tharifi -semoga Allah memberinya kesabaran,  keteguhan di atas kebenaran, dan membebaskannya- dengan judul At-Tahjîl fi Takhriji Mâ Lam Yukhrij minal Âhadîtsi wal Âtsâri fi Irwâil Ghalîl.

Itulah gen kitab Manârus Sabîl dan Irwâul Ghalîl. Di mana para penuntut ilmu mendulang faedah dari keduanya. Tentulah jika ada kekurangan di dalamnya menjadi tugas bagi para penuntut ilmu untuk menyempurnakannya.

Jerih payah yang dilakukan oleh para ulama baik dalam bentuk daras, ikhtishar, syarah, hasyiah, taklik, tahkik, maupun takhrij perlu kita apresiasi meskipun misalnya ada kekurangan. Hal ini tidaklah menjadikannya aib sehingga menolak semua usaha tersebut. Jika kita memiliki ilmu tentangnya, maka meneliti kembali setiap pendapat yang ada merupakan kebaikan bukan tidak mengindahkannya sama sekali. 

Wallahu 'alam.

Abahnya 'Aashim
20 Ramadan 1443


---
Pic: Dokumentasi pribadi sunnahedu.com

Ada Apa dengan Doa?


Berdoa merupakan rutinitas yang tidak pernah lepas dari kehidupan seorang muslim. Dia menghiba kepada Zat Yang Maha Kuasa atas segala yang dia harapkan. Dia merapalkannya baik di keheningan malam maupun di hiruk pikuk kegiatan sehari-harinya. Apa tujuannya? Agar Allah Subhanahu wa Ta’ala memperbaiki segala urusannya.


Doa secara bahasa artinya ath-thalab, permintaan. Adapun secara istilah adalah 


توجه العبد إلى ربه فيما يحتاجه لإصلاح دينه ودنياه


Seorang hamba berpaling kepada Rabb-nya ketika dia membutuhkan segala sesuatu untuk memperbaiki agama dan dunianya. (Islamweb)


Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,


وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ


Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS Al-Baqarah [2]: 186)


Dalam menafsirkan ayat ini Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata:


“Barang siapa yang berdoa kepada Rabbnya dengan hati yang hadir dan doa yang disyariatkan, lalu tidak ada suatu hal yang menghalanginya dari terkabulnya doa, seperti makanan haram dan sebagainya, maka sesungguhnya Allah telah menjadikan baginya doa yang terkabul, khususnya bila dia mengerjakan sebab-sebab terkabulnya doa, yaitu kepasrahan kepada Allah dengan ketaatan kepada perintah perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, baik dalam perkataan maupun perbuatan, beriman kepada-Nya yang mengharuskan timbulnya penerimaan tersebut.” (Tafsir As-Sa’di)


Dan Allah Ta’ala berfirman,


وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ


Dan Tuhan kalian berfirman : ‘Berdoalah kalian kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan bagi kalian’. Sesungguhnya, orang-orang yang sombong dari beribadah kepada-Ku, akan masuk neraka dalam keadaan hina dina.” (QS Ghafir [40]: 60)


Dalam Tafsir As-Sa’di disebutkan bahwa ini adalah bagian dari kelembutan Allah terhadap hamba-hamba-Nya dan nikmat-Nya yang sangat besar, di mana Dia menyeru mereka kepada apa yang di dalamnya terdapat kebaikan bagi agama dan dunia mereka.


Dia perintahkan mereka untuk berdoa dengan doa ibadah dan doa permohonan dan Dia berjanji kepada mereka akan mengabulkannya. Sebaliknya Dia pun mengancam siapa yang menyombongkan diri terhadapnya, seraya berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka dalam keadaan hina dina.” Maksudnya, dengan nista dan terhina, azab dan penghinaan ditimpakan terhadapnya sebagai balasan atas kesombongannya.


Doa adalah Ibadah


Dari Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:


إِنَّ اَلدُّعَاءَ هُوَ اَلْعِبَادَةُ


 “Sesungguhnya doa adalah ibadah.” (HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibnu Majah. Hadits ini shahih menurut At-Tirmidzi)


Apa itu ibadah? 


الْعِبَادَةُ هِيَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ تَعَالَى وَيَرْضَاهُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ


Ibadah adalah suatu istilah yang mencakup setiap perkara yang dicintai dan diridhai oleh Allah Ta'ala; baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang batin maupun yang zhahir.


Karena doa adalah ibadah maka harus memenuhi dua syarat yaitu ikhlas karena Allah Ta’ala semata dan mutaba’ah yakni sesuai dengan petunjuk Nabi-Nya ﷺ.


Terkait ibadah itu harus ikhlas karena-Nya, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,


 وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ


Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allâh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS Al-Bayyinah [98]: 5)


Dan Rasulullah ﷺ bersabda,


إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلاَّ مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ 


Sesungguhnya Allah tidak akan menerima dari semua jenis amalan kecuali yang murni untuk–Nya dan untuk mencari wajah–Nya.” (HR An-Nasai. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah)

Adapun masalah ibadah itu harus mengikuti petunjuk Rasul-Nya ﷺ berdasarkan firman-Nya,


وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا 


Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dia larang kepadamu, maka tinggalkanlah.” (QS Al-Hasyr [59]: 7)


Nabi ﷺ bersabda: 


مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ 


Barangsiapa membuat perkara baru di dalam urusan kami (agama) ini, apa-apa yang bukan padanya, maka itu tertolak.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)


Doa Ada Dua Jenis


Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,


والدعاء نوعان: دعاء عبادة، و دعاء مسألة


“Doa itu ada dua jenis yaitu doa ibadah dan doa mas’alah.”


Doa ibadah adalah seseorang beribadah kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, dalam rangka mendapatkan pahala dari-Nya dan takut terhadap siksa-Nya. 


Doa mas`alah adalah permintaan kebutuhan. Apabila doa mas`alah ini berasal dari hamba ditujukan kepada Allah, maka termasuk ibadah, karena mengandung sikap butuh kepada Allah dan mengandung pula keyakinan bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu dan Maha Luas Pemberian dan Rahmat-Nya.


Oleh sebab itu, doa ibadah maupun doa mas’alah tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla sebab ini adalah syirik akbar yang dapat menggugurkan seluruh amal dan menyebabkan kekal di dalam neraka.


Syirik adalah


تَسْوِيَةُ غَيْرِ اللهِ بِاللهِ فِيْمَا هُوَ مِنْ خَصَائِصِهِ سُبْحَانَهُ 


“Menyamakan selain Allah dengan Allah di dalam perkara yang termasuk kekhususan-kekhususan Allah Yang Maha Suci.” 


Allah Ta’ala berfirman,


وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ


Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu berbuat syirik, niscaya akan terhapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi” (QS Az Zumar [39]: 65)


Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitakan bahwa Dia tidak akan mengampuni dosa syirik, hal ini jika pelakunya tidak bertaubat. Dia ‘Azza wa Jalla berfirman,


 إِنَّ اللهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَادُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَآءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا 


Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS An-Nisa` [4]:48)


Khatimah


Agar doa dan segala amal kita murni hanya untuk Allah Ta’ala semata, maka perlu kiranya mengamalkan salah satu doa yang senantiasa dipanjatkan oleh Amirul Mukminin Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu yakni


اللهُمَّ اجْعَلْ عَمَلِي كُلَّهُ صَالِحًا، وَاجْعَلْهُ لِوَجْهِكَ خَالِصًا، وَلاَ تَجْعَل لأِحَدٍ فِيْهِ شَيْئًا


“Ya Allah, jadikanlah seluruh amalanku amal yang saleh, jadikanlah seluruh amalanku hanya karena ikhlas mengharap wajahmu, dan jangan jadikan sedikitpun dari amalanku tersebut karena orang lain.” (Az-Zuhd karya Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah hal. 617)


[ ]

Pertengahan Sya’ban 1443 H


Yang mengharap ampunan dari Rabb-nya,

Abu ‘Aashim Nanang Ismail